Cerita petualangan kuliner pertama MasCan diawali di sebuah rumah makan yang bernama “RM Tina Sop Buntut” (selanjutnya saya
sebut “Tina”). “RM Tina Sop Buntut”
adalah hasil yang paling banyak muncul di mesin pencari daring apabila kita
mengetik nama rumah makan legendaris kota Kendal ini. Namun bila kita datang ke
rumah makannya langsung, plang nama depannya bertulisakan “RM. Tina Kendal, Spesial Sop Buntut & Es Kopyor”. Di bagan
paling bawah papan namanya tertulis juga “Sedia
Aneka Masakan Indonesia”. Dari plang namanya saja bisa kita bayangkan bervariasainya
menu yang tersedia di “Tina” dan tentu saja sop buntut yang menjadi andalannya.
“Tina” menyajikan menu masakan utama sop buntut sapi yang begitu
terkenal di Kabupaten Kendal. Sebagian besar warga Kendal tentunya tahu rumah
makan “Tina” yang terletak di Jl. Raya
Soekarno-Hatta No.50, Gondoarum, Jambearum, Kec. Patebon, Kabupaten Kendal,
Jawa Tengah ini. Tempatnya jika dilihat dari jalan raya, menampakkan parkiran
yang cukup luas serta asri dengan gaya dekorasi resto khas pantai utara (pantura).
Halaman depan “Tina” juga ditumbuhi beberapa pohon kelapa yang sekaligus
sebagai penghijauan.
Wilayahnya yang strategis, yakni di pinggir jalur utama
pantura, dekat pom bensin dan di sekitar area perkantoran (pemerintahan,
pendidikan dan swasta) menjadikannya sebagai sasaran utama orang-orang untuk
makan siang. Jika kita masuk ke dalam “Tina” akan nampak area tempat makannya yang
cukup luas dan bersih. Ketika siang hari, sering kita jumpai para pegawai
kantoran yang makan di tempat. Selain itu, banyak pula yang membungkusnya
ketika memesannya supaya bisa dibawa pulang dan dimakan bersama keluarga. Bagi
teman-teman yang dari luar kota atau kebetulan singgah di Kota Kendal, bisa
mencoba rumah makan “Tina” ini sembari mengisi perut dan beristirahat.
Saya sendiri menyukai sop buntut “Tina” dan menjadi
pelanggannya sejak tahun 2001 ketika masih SD. Rasanya selalu menggugah selera.
Dari dulu sampai sekarang, ketika ada sop buntut ini di meja makan, minimal
saya akan habis dua piring nasi putih. Sop buntut ini semakin nikmat ketika
kita campurkan dengan kentang goreng (berbentuk keripik) ke dalam kuah dengan
tambahan sambal kecap pedasnya. Kentang goring yang menjadi medok saat tercampur dengan kuah
tersebut akan menambah sensasi nikmatnya setiap suapan. Bagi saya sendiri, sop
buntut “Tina” merupakan sarana memanjakan diri sendiri. Ibaratnya, mood selalu berubah baik setelah makan
sop buntut ini. Dulu ketika saya masih merantau, saat pulang ke Kendal selalu
menyempatkan untuk makan disini. Semacam menjadi sebuah ritual yang harus
dipenuhi.
Kini setelah menetap di Kendal, saya ingin berbagi
pengalaman tersebut. Pada suatu siang hari yang panas di bulan Juni 2020, istri
saya lagi ngidam kepengen makan
makanan yang berkuah dengan rasa mantap. Saya terbersit untuk memesan sop
buntut “Tina” via aplikasi ojek online.
Namun saat ini menu tersebut belum ada di aplikasi. Maka dari itu, saya mengajak
istri saya ke “Tina”. Kebetulan, saya juga sedang kepengen mencoba menu yang belum pernah saya makan sebelumnya.
Sebab selama ini saya selalu memesan menu sop buntut dan es kelapa muda/kopyor.
Saya begitu bersemangat untuk merasakan menu lainnya.
Saat sudah sampai di ”Tina”, saya mengamati sekeliling ruangan
tempat makan dan tidak banyak berubah perihal dekorasinya. Mirip seperti pada
awal tahun 2000-an, ketika saya pertama kali kesini. Di deretan kasir, berjejer
pula aneka jajanan khas Kendal dan tentu saja ada Njonja Besar home made ice cream yang cocok untuk
pencuci mulut. Bau sop dan daging yang sudah tercium lamat-lamat membuat saya
buru-buru ingin memesan makanannya. Kami mencari bangku yang paling depan,
dekat kasir supaya saya bisa lebih leluasa mengamati suasana di tengah ruang
makan dan bisa lebih dekat melihat jajanan-jajanan khas Kendal dan sekitarnya yang dijual.
Istri saya melihat menu serta langsung memesan sop buntut
dan saya memesan iga gongso. Biar lebih puas makannya, kita akan saling sharing kedua menu tersebut. Pesanan
istri sudah sampai dulu. Saya tak kuasa menahan melihat semangkuk sop buntut
yang telah tersaji di meja. Saya mencoba kuahnya (yang belum diberi kecap
sambal) dan rasanya begitu gurih dengan daging buntut yang empuk. Tulang dengan
dagingnya mudah terlepas dan tercabik. Dalam satu mangkok, terdiri dari
beberapa potongan wortel ukuran agak tebal, potongan kentang tebal, daun
seledri, bawang goreng dan beberapa potongan daging dengan ukuran besar yang
menyatu dengan tulang muda. Semuanya berpadu serasi dengan kuah khas yang
menjadi signature sop buntut “Tina”
ini.
Setengah piring nasi dan setengah mangkok sop buntut pun tak
terasa telah habis dalam sekejap. Saat sedang asyik mengunyah, saya kedatangan
menu iga gongso. Ini adalah pertama kalinya saya mencoba iga gongso di “Tina”.
Dari aromanya terasa sangat kuat sekali bumbu-bumbunya. Iga sapi ini dibaluri
dengan bumbu-bumbu sedemikian rupa sehingga menghasilkan perpaduan yang sesuai
dengan selera saya: pedas dan gurih.
Kuantitas daging iganya melimpah dan empuk ketika dikunyah. Tak sulit untuk
melepaskan daging dari tulang. Dengan bumbu yang begitu meresap ke daging, membuat
iga gongso ini begitu paten. Pertama kali saya coba, saya memutuskan ini akan
menjadi menu selang-seling saya ketika makan di “Tina”. Bagi yang suka masakan
daging yang bercitarasa pedas, menu ini sangat direkomendasikan.
Istri saya yang kurang suka pedas hanya mencicipi sedikit
saja. Dalam hati saya sangat senang, karena tidak ada yang menganggu santapan
saya hahaha *tertawa dalam hati*. Sekitar
15 menitan saya menghabiskan iga gongso tersebut dengan penuh kemenangan. Sisa-sisa
tulang yang saya koyak dagingnya tersisa di piring, seperti artefak fosil yang
ditemukan oleh para arkeolog/paleontolog. Dari kedua porsi makanan tersebut,
saya menghabiskan 75%-nya, sedangkan istri hanya makan 25% saja. Strategi saya
biar bisa makan besar berhasil hehehe.
Setelah puas makan, es teh menjadi penutup dari makan siang hari itu.
Bener-bener pas sekali buat memanjakan diri sendiri.
Sambil menurunkan perut yang kenyang, saya memesan dua porsi
sop buntut buat orang rumah. Saya tidak memesan iga gongso buat orang rumah
karena sebagian besar tidak suka dengan masakan pedas. Jadi saya membelikannya yang
sop buntut supaya anak saya juga bisa ikut makan.
Untuk info tambahan, beberapa menu makanan yang tersedia di “Tina”
antara lain Sop Buntut, Iga Gongso, Ayam
Goreng, Gado-Gado Telor, Babat Gongso, Rawon, Sup Ayam, Tengkleng, Otak Sapi
Goreng Telor, Rendang Sapi, Mi/Bihun Goreng Telor, Mie Bakso/Bakso Kuah, Nasi
Goreng Spesial, Nasi Goreng Ayam, Nasi Goreng Bakso, Nasi Goreng Sosis, Nasi
Goreng Babat, Nasi Goreng Telor, Nasi Pecel Telor, Nasi Pecel Tahu Krupuk, Nasi
Rames dan Nasi Iga Spesial. Semuanya harganya berkisar dari 15 K sampai 50
K.
Untuk minumannya sendiri antara lain Es Kopyor, Es Kopyor Susu, Es Kelapa Muda, Es Kelapa Muda Susu, Es
Campur, Es Marquisa, Es Marquisa Kelapa Muda, Es Sirup, Es Soda Gembira, Jeruk,
Susu, Kopi, Kopi Susu, Teh Poci + Gula Batu, Teh Manis, Teh Tawar, Teh Botol,
Tebs, Jus Sirsat, Jus Jambu, Jus Wortel, Jus Tomat, Wedang Jahe dan Lemon Tea.
Semuanya berkisar dari 4 K sampai 21 K.
Suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke “Tina” dan mencoba menu yang belum pernah saya coba. Nanti saya akan ceritakan di blog Selera Macan setelah mencoba menu seperti Babat Gongso, Nasi Iga Spesial dan Tengkleng-nya. Sekian cerita singkat MasCan mencari kuliner pada hari ini. Semoga cerita perdana ini bermanfaat, serta kita senantiasa sehat selalu dan dilancarkan rejekinya. Aamiin..











No comments:
Post a Comment