Warung yang menyerupai warteg ini disebut sebagai warung
pecel karena memang menyajikan menu utama pecel sayurnya yang khas. Meskipun, “ngisor ringin” ini juga menyediakan
menu lainnya berupa ramesan atau nasi warteg.
Kalau kita coba tengok dan amati di depan warungnya, tidak
ada plang nama usahanya. Namun
apabila kita coba cari di google maps,
warung tersebut bernama “pecel ngisor
ringin”. Entah siapa yang menamakannya, mungkin saja warga sekitar atau pelanggan
yang sering datang ke warung tersebut. Namun, kalau dilihat-lihat, nama tempat
itu terdengar sangat unik dan ikonik. Maka dari itu, tempat ini perlu untuk
diulas.
Warga daerah Kecamatan Cepiring, Kangkung dan Gemuh biasanya
tahu letak dimana lokasi pecel “ngisor ringin” ini, karena pecel ini begitu cukup
terkenal di kecamatan-kecamatan tersebut. Kalau disurvei kecil-kecilan, tiga dari
lima kawan saya dari kecamatan-kecamatan tersebut tahu dimana lokasi pecel “ngisor
ringin” ini.
Bagi teman-teman yang belum tahu lokasinya, bisa mengikuti
patokannya di Jalan Stasiun Semut, kira-kira 100 meter dari Jalan Raya
Soekarno-Hatta, ada tanah lapang dipaving
block yang seluas lapangan bola. Di ujungnya ada pohon beringin yang
rimbun, yang mungkin sudah berumur 50-an tahun. Nah, di bawah pohon beringin
tersebut ada sebuah warung makan sederhana yang terbuat dari kayu-kayu tua,
yang dicat warna hijau. Di tempat itulah, pecel legendaris yang (mungkin) sudah
20 tahun tersebut dibuat.
Tempatnya tergolong kecil, namun di dalamnya ada lebih dari
tiga orang ibu-ibu yang mengoperasionalkan warung ini. Saat masuk, suasananya benar-benar
seperti di rumah. Guyonan dan bercandaan ibu-ibu yang masak mewarnai suasana di
dalam warung tersebut. Bagi yang ingin makan di tempat, warung ini menyediakan
beberapa bangku panjang yang terletak di dalam warung utama dan juga di ruangan
terbuka sampingnya. Kalau saya sendiri lebih sering take away untuk dimakan bersama-sama dengan istri saya di rumah.
Sebelumnya, saya tahu warung pecel ini gara-gara dulu ketika
sedang membaca Koran Suara Merdeka, kira-kira pada tahun 2004 saat masih SMP.
Di salah satu artikelnya, ada tulisan menganai pecel yang berlokasi di Jalan Stasiun Semut, Duwet, Cepiring, Kec.
Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini. Kalau tidak salah, waktu itu
bapak saya pulang kerja dan membawa beberapa bungkus pecel ini. Saat pertama
kali mencobanya, saya langsung jatuh hati. Porsinya yang besar membuat perut
kenyang dan puas. Sejak saat itu, saya menjadi pelanggan rutinnya sampai akhir
dekade 2000-an, karena setelah itu saya harus sekolah keluar kota.
Nah, kebetulan saat ini saya sudah menetap kembali di Kendal
dan bisa menikmati pecel ini kapan saja, terutama saat makan siang. Masih sama
seperti 15 tahun yang lalu, porsinya yang besar tidak banyak berubah. Saya dan
istri saya seringnya memesan pecel dengan campuran andalan: sayur pecel+potongan lontong+potongan
bakwan. Menurut saya komposisi ini adalah kombinasi yang paling paripurna
di dunia perpecelan. Sambal kacang dari pecel akan lebih menyerap ke potongan
lontong dan bakwan di dalamnya. Saya pun selalu memesan pecel dengan kategori
“Pedas” di warung ini, sampai penjualnya sudah hafal.
Layaknya nasi padang, paket komposisi pecel favorit saya
seperti di atas akan lebih nikmat bila dibungkus. Maka dari itu, saya seringnya
membungkus pecelnya supaya bumbu-bumbunya bisa menyerap ke semua bagian. Dan
seperti biasa, saat saya membuka paket pecel tersebut, teksturnya begitu menggugah
selera. Saya sarankan, apabila anda tidak suka makan sayur, bisa mencoba menu
pecel sayur sebagai alternatif menu makanan, karena rasanya tidak hambar dan
tentu kaya akan serat. Menu ini cocok untuk diet.
Kalau diperhatikan lebih detail, pecel “ngisor ringin” ini
mempunyai ciri khas tekstur sambal kacang yang tidak terlalu lembut, karena
semuanya manual handmade. Bulir-bulir
kacang, cabai dan gula jawanya terlihat di permukaan sayur mayur yang segar. Bagi
saya, sambal kacang inilah yang menjadi ciri khas pecel “ngisor ringin”. Jika
pecel telah habis di piring, biasanya saya habiskan sambal kacangnya sampai
tuntas. Sambal kacang tersebut juga melumuri potongan lontong dan bakwan yang
dicacah-cacah. Tidak lupa dengan kombinasi dari rebusan sayurnya pecelnya, yang
terdiri dari bayam, tauge dan kacang panjang. Untuk menambah nikmatnya makan,
bisa ditambah krupuk acir/krupuk putih sebagai pemeriah suasana.






No comments:
Post a Comment