Semangat pagi teman-teman Seleramacan semua. Kali ini, MasCan ingin bercerita tentang warung sate di Kendal yang tergolong legendaris. Tak hanya masakannya, tempatnya pun punya keunikan tersendiri.
Pertama-tama, MasCan ingin mendeskripsikan seperti apa rupa warungnya.
Waroeng Sate "Pak Dul
Tjepiring" berlokasi di Jl. Sri
Agung No.234, Cepiring Tengah, Cepiring, Kec. Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa
Tengah 51352. Untuk patokannya, warung ini tepat di selatan lampu merah
Sriagung Cepiring. Konon, dulu sekitar tempat ini ada gedung bioskop Sriagung
yang legendaris.
Dari tampilan luar, warung sate ini mirip seperti rumah yang
dijadikan tempat makan. Dilansir dari berbagai sumber, warung sate ini sudah
ada sejak zaman Belanda dan mulai dibuka pada tahun 1946. Namun ketika kita
masuk ke dalam ruangannya, kita seperti berada di sebuah mini museum sejarah
Cepiring – Kendal, sejak era kolonial Belanda, Jepang sampai pasca kemerdekaan.
Banyak arsip dan artefak kuno terpajang di dinding-dinding yang tentunya
membuat kita penasaran, terutama tentang kisah Pabrik Gula Cepiring yang sampai
saat ini masih beroperasi. Aryo Widiyanto adalah seorang pemilik warung saat
ini yang merancang warung tersebut menjadi sedemikian rupa.
Bisa dibilang, Mas Aryo ini adalah seorang PNS yang
menggemari sejarah Kendal dan Kecamatan Cepiring. Karya-karya bukunya juga
terpampang di warung tersebut, seperti “Farewell
Tjepiring” dan “Tjepiring” yang
bernafaskan kisah historis. Melihat hal tersebut, suatu saat nanti MasCan rasanya ingin sekali berdiskusi
dengan beliau terkait dengan sejarah Kendal dan membuat proyek buku asal-usul
nama lokasi di Kendal (bermimpi dulu aja, siapa tau MasCan bisa bikin buku sejarah hehehe).
Intinya, jarang ada tempat makan di Kendal seperti Waroeng Sate Pak Dul ini.
Tempat ini sangat edukatif dan tentunya bisa menambah wawasan kita semua tentang
sejarah Kabupaten Kendal terutama Tjepiring. Ornamen dan catatan sejarah berupa
koran serta foto jadul membuat ruangan utama warung ini terasa vintage.
Malam itu, saya bersama istri memesan hidangan yang tak
kalah mantap, yaitu sate kambing dan gule. Sate kambing yang dihidangkan dalam hot plate menambah kenikmatan karena aroma
daging terasa sekali. Uap-uap dari hot plate
dan satenya membuat hidangan terasa ‘fresh
from the oven’. Satenya empuk dengan tingkat kematangan yang pas. Sambal,
potongan bawang merah, potongan tomat dan daun selada diletakkan di piring yang
terpisah. Sambalnya terasa sangat pedas, jadi teman-teman perlu menakarnya
sesuai selera ya J
Sedangkan gule kambingnya terasa nikmat walau tanpa tambahan
pelengkap rasa apapun. Selain itu, daging kambing dalam gule yang kuantitasnya
cukup banyak ini yang menjadi daya tariknknya. Seporsi sate dan seporsi gule
kambing pas untuk makan sharing berdua.
Puas. Campuran gule di nasi putih dan dimakan bersama sate kambing akan
menambah kepuasan tersendiri. Jika sudah selesai, akan lebih terasa nikmat jika
ditutup dengan es teh manis. Yuk datang ke warung ini, supaya anda bisa belajar
sejarah dan menikmati hidangan sate yang enak. Salam kuliner!




















No comments:
Post a Comment