Jajanan bakwan malang di depan gerbang SMAN 1 Kendal
(SMANIK) memang selalu favorit bagi MasCan.
Dulu, di sepanjang tahun 2006-2009, jajanan ini merupakan cemilan berat siang
sepulang sekolah yang paling ampuh. Menurut saya rasanya termasuk enak, praktis
dan mengenyangkan. Dan tentu saja, harganya ramah di kantong pelajar. Biasanya
saya makan bakwan malang ini sambil cekikikan
bersama teman-teman di ruanan atau di lorong-lorong kelas. Atau bisa juga buat ngemil sambil naik angkot/bus Curug. Mungkin, kalau jaman sekarang ada
rice bowl yang bisa dimakan sambil ngapain aja, dulu ada bakwan malang ini.
Sebenarnya awalnya saya sedikit bingung perbedaan antara
bakso malang dan bakwan malang. Karena teman-teman SMA saya dulu ada yang
menyebutnya bakso malang. Saya lebih senang menyebutnya bakwan malang karena
berdasarkan ciri-cirinya, jajanan depan Smanik tersebut lebih cocok disebut
bakwan karena:
1.
Bakwan kuahnya lebih bening dengan rasa yang
ringan. Biasanya kalau bakso ada tetelan lemaknya dan gurihnya kuat.
2.
Bahan pelengkap kuah bakwan cenderung lebih
sederhana, karena hanya berisi bawang goreng dan irisan daun bawang saja, tanpa
ada bihun, mie kuning, sawi, kol dan lain-lain.
Atas kriteria tersebut, saya menyebut jajanan depan Smanik
ini sebagai bakwan malang. Walau sebenarnya di gerobaknya sendiri sudah
jelas-jelas tertulis “BAKWAN MALANG” dengan huruf kapital yang tegas.
Biasanya saya dulu pesan ke tuka
Kebetulan, pada hari yang panas di bulan Juni 2020 ini,
istri saya lagi ngidam makan bakwan ngalam depan Smanik. Dia minta saya
membelikannya. Benar juga, siang-siang makan bakwan ngalam adalah pilihan yang tepat. Saya pun langsung tancap gas skuter
menuju lokasi penjualnya, yang ternyata sekarang sudah pindah tepat di depan
SMKN 1 Kendal (gedung Smanik dan SMK1 AKA
Smea bersebelahan). Jadi, sekarang saya perlu menyebutnya bakwan malang Smanik
atau Bakwan Malang Smea ya?. Karena di ingatan saya dulu bakwan ini terletak di
depan Smanik, maka saya menyebutnya bakwan malang Smanik saja.
Jika dilihat dari tampilan gerobaknya, masih sama seperti sebelas
tahun yang lalu. Warna cat gerobak dan aroma kuah baksonya yang khas, terasa masih
sama. Mungkin yang jual sekarang sidah ganti, karena dulu seingat saya yang
jual masih muda. Sekarang sudah ganti bapak-bapak. Mungkin ada netizen yang bias jelaskan? Hehehe.
Saya pun mengantri untuk memesan bakwan malang ini. Ternyata
cukup banyak yang mengantri. Ada tiga orang kala itu, tapi setiap orangnya
pesan lima bungkus. Melihat bapaknya menuangkan kuah ke dalam plastik berisi
bakwan malang ini, perut keroncongan saya semakin menjadi-jadi. Saya pesan dua
porsi, masing-masing porsi saya minta Rp.15.000-an, biar makannya bisa lebih
puas. Saya minta kuah, bakwan, sambal, kecapnya dan lain-lainnya dipisah,
supaya di rumah bisa diracik sendiri. Sebelum pulang, saya cek kembali
bungkusan yang saya pesan, dan terlihat sangat lezat menggoda. Tampilannya
masih pun sama seperti sebelas tahun yang lalu.
Sampai rumah saya coba unboxing
bakwan malang tersebut. Saya racik sedemikian rupa di awal, dengan kuah polos
tanpa campuran sambal dan kecap. Dan ternyata rasanya masih sama. Bila
diibaratkan Krusty Krab, mungkin ini
ada semacam resep rahasianya ya hehehe.
Setelah puas mencicipi kuah yang polos, saya menambah saos sambal pada kuah
bakwan malang saya.
Kalau diamati secara detail, dalam satu mangkok bakwan
malang depan Smanik ini terdiri dari bakso tahu, pangsit goring, pangsit rebus
dan beberapa butir bakso yang dicampur dengan kuah yang gurih serta khas.
Baksonya kenyal dengan tekstur yang begitu terasa serat/uratnya. Untuk ukuran
bakso gerobak, ini tergolong yang enak. Pangsit rebusnyanya matangnya sampai
dalam dan chewy ketika digigit. Yang
saya senangi adalah rasanya yang tidak berubah. Seringkali rasa jajanan pinggir
jalan mengingatkan kita akan romansa/nostalgia jaman dulu. Mungkin manusia di
sekelilingnya banyak yang berubah, tapi citarasa kuliner ini tetap sama.
Setelah menghabisakan semangkok bakwan ngalam ini, akan lebih nikmat kalau minumnya es teh manis. Hilang
sudah lapar dan dahaga di siang yang terik itu.
Kalau saya amati, sebenarnya kita bisa pesan harga berapapun
di gerobak bakwan ngalam ini. Tapi
semuanya lebih terasa komplit kalau kita beli dnegan harga minimal Rp.5000 per
porsi. Kalau teman-teman gragas
seperti saya, bisa pesan Rp.15.000 biar lebih puas hehehe.
Dulu waktu saya SMA di tahun 2006-2009, di seberang Smanik
atau Smea rasanya tidak seramai sekarang. Dulu mungkin yang jual bisa dihitung
dengan jari, termasuk bakwan malang ini dan es cincau. Sekarang, mobil aja
harus pelan-pelan kalau mau masuk jalan depan institusi pendidikan Kendal ini.
Tak terasa, sekarang gedung SMA saya sudah mentereng, lantainya rata-rata sudah
bertingkat sampai belakang. Beda jauh lah dengan jaman saya hehehe.
Selain itu yang mengejutkan lagi, sungai depan Smanik yang
kini sudah lebih bersih. Mungkin bisa menampung lebih banyak debit air
dibandingkan dulu. Dulu saya ingat, sampahnya cukup banyak dan ditumbuhi
tanaman sejanis kangkung liar di sepanjang sungai.
Di sepanjang jalan depan Smanik ini masih banyak jajanan
yang belum saya cicipi. Nanti jika ada kesempatan, akan saya ceritakan lagi di
blog ini. Salam Selera Macam!




























