Friday, June 26, 2020

Berburu Bakwan Malang di Depan SMANIK

Jajanan bakwan malang di depan gerbang SMAN 1 Kendal (SMANIK) memang selalu favorit bagi MasCan. Dulu, di sepanjang tahun 2006-2009, jajanan ini merupakan cemilan berat siang sepulang sekolah yang paling ampuh. Menurut saya rasanya termasuk enak, praktis dan mengenyangkan. Dan tentu saja, harganya ramah di kantong pelajar. Biasanya saya makan bakwan malang ini sambil cekikikan bersama teman-teman di ruanan atau di lorong-lorong kelas. Atau bisa juga buat ngemil sambil naik angkot/bus Curug. Mungkin, kalau jaman sekarang ada rice bowl yang bisa dimakan sambil ngapain aja, dulu ada bakwan malang ini.

Sebenarnya awalnya saya sedikit bingung perbedaan antara bakso malang dan bakwan malang. Karena teman-teman SMA saya dulu ada yang menyebutnya bakso malang. Saya lebih senang menyebutnya bakwan malang karena berdasarkan ciri-cirinya, jajanan depan Smanik tersebut lebih cocok disebut bakwan karena:

1.       Bakwan kuahnya lebih bening dengan rasa yang ringan. Biasanya kalau bakso ada tetelan lemaknya dan gurihnya kuat.

2.       Bahan pelengkap kuah bakwan cenderung lebih sederhana, karena hanya berisi bawang goreng dan irisan daun bawang saja, tanpa ada bihun, mie kuning, sawi, kol dan lain-lain.

Atas kriteria tersebut, saya menyebut jajanan depan Smanik ini sebagai bakwan malang. Walau sebenarnya di gerobaknya sendiri sudah jelas-jelas tertulis “BAKWAN MALANG” dengan huruf kapital yang tegas.


Biasanya saya dulu pesan ke tukang baksonya Rp.5000 dengan kuah yang pedas dan dibungkus plastik. Jaman itu, dengan harga goceng, sudah dapat menu komplit yang cukup banyak. Ada bakso kecil, bakso ukuran besar, pangsit rebus, pangsit goreng dan tahu bakso dalam satu kantong plastik bening yang tentunya sangat menggugah selera.

Kebetulan, pada hari yang panas di bulan Juni 2020 ini, istri saya lagi ngidam makan bakwan ngalam depan Smanik. Dia minta saya membelikannya. Benar juga, siang-siang makan bakwan ngalam adalah pilihan yang tepat. Saya pun langsung tancap gas skuter menuju lokasi penjualnya, yang ternyata sekarang sudah pindah tepat di depan SMKN 1 Kendal (gedung Smanik dan SMK1 AKA Smea bersebelahan). Jadi, sekarang saya perlu menyebutnya bakwan malang Smanik atau Bakwan Malang Smea ya?. Karena di ingatan saya dulu bakwan ini terletak di depan Smanik, maka saya menyebutnya bakwan malang Smanik saja.

Jika dilihat dari tampilan gerobaknya, masih sama seperti sebelas tahun yang lalu. Warna cat gerobak dan aroma kuah baksonya yang khas, terasa masih sama. Mungkin yang jual sekarang sidah ganti, karena dulu seingat saya yang jual masih muda. Sekarang sudah ganti bapak-bapak. Mungkin ada netizen yang bias jelaskan? Hehehe.



Saya pun mengantri untuk memesan bakwan malang ini. Ternyata cukup banyak yang mengantri. Ada tiga orang kala itu, tapi setiap orangnya pesan lima bungkus. Melihat bapaknya menuangkan kuah ke dalam plastik berisi bakwan malang ini, perut keroncongan saya semakin menjadi-jadi. Saya pesan dua porsi, masing-masing porsi saya minta Rp.15.000-an, biar makannya bisa lebih puas. Saya minta kuah, bakwan, sambal, kecapnya dan lain-lainnya dipisah, supaya di rumah bisa diracik sendiri. Sebelum pulang, saya cek kembali bungkusan yang saya pesan, dan terlihat sangat lezat menggoda. Tampilannya masih pun sama seperti sebelas tahun yang lalu.




Sampai rumah saya coba unboxing bakwan malang tersebut. Saya racik sedemikian rupa di awal, dengan kuah polos tanpa campuran sambal dan kecap. Dan ternyata rasanya masih sama. Bila diibaratkan Krusty Krab, mungkin ini ada semacam resep rahasianya ya hehehe. Setelah puas mencicipi kuah yang polos, saya menambah saos sambal pada kuah bakwan malang saya.

Kalau diamati secara detail, dalam satu mangkok bakwan malang depan Smanik ini terdiri dari bakso tahu, pangsit goring, pangsit rebus dan beberapa butir bakso yang dicampur dengan kuah yang gurih serta khas. Baksonya kenyal dengan tekstur yang begitu terasa serat/uratnya. Untuk ukuran bakso gerobak, ini tergolong yang enak. Pangsit rebusnyanya matangnya sampai dalam dan chewy ketika digigit. Yang saya senangi adalah rasanya yang tidak berubah. Seringkali rasa jajanan pinggir jalan mengingatkan kita akan romansa/nostalgia jaman dulu. Mungkin manusia di sekelilingnya banyak yang berubah, tapi citarasa kuliner ini tetap sama.





Setelah menghabisakan semangkok bakwan ngalam ini, akan lebih nikmat kalau minumnya es teh manis. Hilang sudah lapar dan dahaga di siang yang terik itu.

Kalau saya amati, sebenarnya kita bisa pesan harga berapapun di gerobak bakwan ngalam ini. Tapi semuanya lebih terasa komplit kalau kita beli dnegan harga minimal Rp.5000 per porsi. Kalau teman-teman gragas seperti saya, bisa pesan Rp.15.000 biar lebih puas hehehe.

Dulu waktu saya SMA di tahun 2006-2009, di seberang Smanik atau Smea rasanya tidak seramai sekarang. Dulu mungkin yang jual bisa dihitung dengan jari, termasuk bakwan malang ini dan es cincau. Sekarang, mobil aja harus pelan-pelan kalau mau masuk jalan depan institusi pendidikan Kendal ini. Tak terasa, sekarang gedung SMA saya sudah mentereng, lantainya rata-rata sudah bertingkat sampai belakang. Beda jauh lah dengan jaman saya hehehe. 

Selain itu yang mengejutkan lagi, sungai depan Smanik yang kini sudah lebih bersih. Mungkin bisa menampung lebih banyak debit air dibandingkan dulu. Dulu saya ingat, sampahnya cukup banyak dan ditumbuhi tanaman sejanis kangkung liar di sepanjang sungai.

Di sepanjang jalan depan Smanik ini masih banyak jajanan yang belum saya cicipi. Nanti jika ada kesempatan, akan saya ceritakan lagi di blog ini. Salam Selera Macam!


Tuesday, June 23, 2020

Pecel “Ngisor Ringin” Legendaris Cepiring

Pada petualangan kuliner kali ini MasCan mau berbagi cerita tentang kuliner yang cukup tersembunyi tempatnya di Kabupaten Kendal. Tersembunyi dalam artian, masih banyak khalayak yang belum tahu tempat makan ini, bahkan yang dari Kabupaten Kendal sekalipun. Setelah saya coba amati, tak ada yang tahu pasti apa nama tempat makan atau warung ini. Tapi orang-orang di desa saya biasanya menyebutnya sebagai warung pecel ngisor ringin (warung pecel di bawah pohon beringin). Bagi saya sendiri, keberadaan warung dan menu pecel sayurnya cukup legend di Kecamatan Cepiring ini.

Warung yang menyerupai warteg ini disebut sebagai warung pecel karena memang menyajikan menu utama pecel sayurnya yang khas. Meskipun, “ngisor ringin” ini juga menyediakan menu lainnya berupa ramesan atau nasi warteg.

Kalau kita coba tengok dan amati di depan warungnya, tidak ada plang nama usahanya. Namun apabila kita coba cari di google maps, warung tersebut bernama “pecel ngisor ringin”. Entah siapa yang menamakannya, mungkin saja warga sekitar atau pelanggan yang sering datang ke warung tersebut. Namun, kalau dilihat-lihat, nama tempat itu terdengar sangat unik dan ikonik. Maka dari itu, tempat ini perlu untuk diulas.

Warga daerah Kecamatan Cepiring, Kangkung dan Gemuh biasanya tahu letak dimana lokasi pecel “ngisor ringin” ini, karena pecel ini begitu cukup terkenal di kecamatan-kecamatan tersebut. Kalau disurvei kecil-kecilan, tiga dari lima kawan saya dari kecamatan-kecamatan tersebut tahu dimana lokasi pecel “ngisor ringin” ini.

Bagi teman-teman yang belum tahu lokasinya, bisa mengikuti patokannya di Jalan Stasiun Semut, kira-kira 100 meter dari Jalan Raya Soekarno-Hatta, ada tanah lapang dipaving block yang seluas lapangan bola. Di ujungnya ada pohon beringin yang rimbun, yang mungkin sudah berumur 50-an tahun. Nah, di bawah pohon beringin tersebut ada sebuah warung makan sederhana yang terbuat dari kayu-kayu tua, yang dicat warna hijau. Di tempat itulah, pecel legendaris yang (mungkin) sudah 20 tahun tersebut dibuat.



Tempatnya tergolong kecil, namun di dalamnya ada lebih dari tiga orang ibu-ibu yang mengoperasionalkan warung ini. Saat masuk, suasananya benar-benar seperti di rumah. Guyonan dan bercandaan ibu-ibu yang masak mewarnai suasana di dalam warung tersebut. Bagi yang ingin makan di tempat, warung ini menyediakan beberapa bangku panjang yang terletak di dalam warung utama dan juga di ruangan terbuka sampingnya. Kalau saya sendiri lebih sering take away untuk dimakan bersama-sama dengan istri saya di rumah.



Sebelumnya, saya tahu warung pecel ini gara-gara dulu ketika sedang membaca Koran Suara Merdeka, kira-kira pada tahun 2004 saat masih SMP. Di salah satu artikelnya, ada tulisan menganai pecel yang berlokasi di Jalan Stasiun Semut, Duwet, Cepiring, Kec. Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini. Kalau tidak salah, waktu itu bapak saya pulang kerja dan membawa beberapa bungkus pecel ini. Saat pertama kali mencobanya, saya langsung jatuh hati. Porsinya yang besar membuat perut kenyang dan puas. Sejak saat itu, saya menjadi pelanggan rutinnya sampai akhir dekade 2000-an, karena setelah itu saya harus sekolah keluar kota.

Nah, kebetulan saat ini saya sudah menetap kembali di Kendal dan bisa menikmati pecel ini kapan saja, terutama saat makan siang. Masih sama seperti 15 tahun yang lalu, porsinya yang besar tidak banyak berubah. Saya dan istri saya seringnya memesan pecel dengan campuran andalan: sayur pecel+potongan lontong+potongan bakwan. Menurut saya komposisi ini adalah kombinasi yang paling paripurna di dunia perpecelan. Sambal kacang dari pecel akan lebih menyerap ke potongan lontong dan bakwan di dalamnya. Saya pun selalu memesan pecel dengan kategori “Pedas” di warung ini, sampai penjualnya sudah hafal.

Layaknya nasi padang, paket komposisi pecel favorit saya seperti di atas akan lebih nikmat bila dibungkus. Maka dari itu, saya seringnya membungkus pecelnya supaya bumbu-bumbunya bisa menyerap ke semua bagian. Dan seperti biasa, saat saya membuka paket pecel tersebut, teksturnya begitu menggugah selera. Saya sarankan, apabila anda tidak suka makan sayur, bisa mencoba menu pecel sayur sebagai alternatif menu makanan, karena rasanya tidak hambar dan tentu kaya akan serat. Menu ini cocok untuk diet.

Kalau diperhatikan lebih detail, pecel “ngisor ringin” ini mempunyai ciri khas tekstur sambal kacang yang tidak terlalu lembut, karena semuanya manual handmade. Bulir-bulir kacang, cabai dan gula jawanya terlihat di permukaan sayur mayur yang segar. Bagi saya, sambal kacang inilah yang menjadi ciri khas pecel “ngisor ringin”. Jika pecel telah habis di piring, biasanya saya habiskan sambal kacangnya sampai tuntas. Sambal kacang tersebut juga melumuri potongan lontong dan bakwan yang dicacah-cacah. Tidak lupa dengan kombinasi dari rebusan sayurnya pecelnya, yang terdiri dari bayam, tauge dan kacang panjang. Untuk menambah nikmatnya makan, bisa ditambah krupuk acir/krupuk putih sebagai pemeriah suasana.



Informasi tambahan, untuk satu bungkus porsi pecel ini, dihargai 9K untuk paket lengkap dengan gorengan dan lontong di dalamnya. Sedangkan yang paket pecel saja seharga 7K. Bagi yang belum pernah mencoba warung pecel “ngisor ringin” yang legendaris ini dapat mencoba masakannya dengan datang langsung ke tempatnya. Semoga warungnya terus laris dan semoga kuliner Kabupaten Kendal semakin jaya. Aamiin… 

Saturday, June 20, 2020

Sop Buntut “Tina” dan Usaha Memanjakan Diri Sendiri

Cerita petualangan kuliner pertama MasCan diawali di sebuah rumah makan yang bernama “RM Tina Sop Buntut” (selanjutnya saya sebut “Tina”). “RM Tina Sop Buntut” adalah hasil yang paling banyak muncul di mesin pencari daring apabila kita mengetik nama rumah makan legendaris kota Kendal ini. Namun bila kita datang ke rumah makannya langsung, plang nama depannya bertulisakan “RM. Tina Kendal, Spesial Sop Buntut & Es Kopyor”. Di bagan paling bawah papan namanya tertulis juga “Sedia Aneka Masakan Indonesia”. Dari plang namanya saja bisa kita bayangkan bervariasainya menu yang tersedia di “Tina” dan tentu saja sop buntut yang menjadi andalannya.

“Tina” menyajikan menu masakan utama sop buntut sapi yang begitu terkenal di Kabupaten Kendal. Sebagian besar warga Kendal tentunya tahu rumah makan “Tina” yang terletak di Jl. Raya Soekarno-Hatta No.50, Gondoarum, Jambearum, Kec. Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini. Tempatnya jika dilihat dari jalan raya, menampakkan parkiran yang cukup luas serta asri dengan gaya dekorasi resto khas pantai utara (pantura). Halaman depan “Tina” juga ditumbuhi beberapa pohon kelapa yang sekaligus sebagai penghijauan.

Wilayahnya yang strategis, yakni di pinggir jalur utama pantura, dekat pom bensin dan di sekitar area perkantoran (pemerintahan, pendidikan dan swasta) menjadikannya sebagai sasaran utama orang-orang untuk makan siang. Jika kita masuk ke dalam “Tina” akan nampak area tempat makannya yang cukup luas dan bersih. Ketika siang hari, sering kita jumpai para pegawai kantoran yang makan di tempat. Selain itu, banyak pula yang membungkusnya ketika memesannya supaya bisa dibawa pulang dan dimakan bersama keluarga. Bagi teman-teman yang dari luar kota atau kebetulan singgah di Kota Kendal, bisa mencoba rumah makan “Tina” ini sembari mengisi perut dan beristirahat.

Saya sendiri menyukai sop buntut “Tina” dan menjadi pelanggannya sejak tahun 2001 ketika masih SD. Rasanya selalu menggugah selera. Dari dulu sampai sekarang, ketika ada sop buntut ini di meja makan, minimal saya akan habis dua piring nasi putih. Sop buntut ini semakin nikmat ketika kita campurkan dengan kentang goreng (berbentuk keripik) ke dalam kuah dengan tambahan sambal kecap pedasnya. Kentang goring yang menjadi medok saat tercampur dengan kuah tersebut akan menambah sensasi nikmatnya setiap suapan. Bagi saya sendiri, sop buntut “Tina” merupakan sarana memanjakan diri sendiri. Ibaratnya, mood selalu berubah baik setelah makan sop buntut ini. Dulu ketika saya masih merantau, saat pulang ke Kendal selalu menyempatkan untuk makan disini. Semacam menjadi sebuah ritual yang harus dipenuhi.

Kini setelah menetap di Kendal, saya ingin berbagi pengalaman tersebut. Pada suatu siang hari yang panas di bulan Juni 2020, istri saya lagi ngidam kepengen makan makanan yang berkuah dengan rasa mantap. Saya terbersit untuk memesan sop buntut “Tina” via aplikasi ojek online. Namun saat ini menu tersebut belum ada di aplikasi. Maka dari itu, saya mengajak istri saya ke “Tina”. Kebetulan, saya juga sedang kepengen mencoba menu yang belum pernah saya makan sebelumnya. Sebab selama ini saya selalu memesan menu sop buntut dan es kelapa muda/kopyor. Saya begitu bersemangat untuk merasakan menu lainnya.

Saat sudah sampai di ”Tina”, saya mengamati sekeliling ruangan tempat makan dan tidak banyak berubah perihal dekorasinya. Mirip seperti pada awal tahun 2000-an, ketika saya pertama kali kesini. Di deretan kasir, berjejer pula aneka jajanan khas Kendal dan tentu saja ada Njonja Besar home made ice cream yang cocok untuk pencuci mulut. Bau sop dan daging yang sudah tercium lamat-lamat membuat saya buru-buru ingin memesan makanannya. Kami mencari bangku yang paling depan, dekat kasir supaya saya bisa lebih leluasa mengamati suasana di tengah ruang makan dan bisa lebih dekat melihat jajanan-jajanan khas Kendal dan sekitarnya yang dijual.



Istri saya melihat menu serta langsung memesan sop buntut dan saya memesan iga gongso. Biar lebih puas makannya, kita akan saling sharing kedua menu tersebut. Pesanan istri sudah sampai dulu. Saya tak kuasa menahan melihat semangkuk sop buntut yang telah tersaji di meja. Saya mencoba kuahnya (yang belum diberi kecap sambal) dan rasanya begitu gurih dengan daging buntut yang empuk. Tulang dengan dagingnya mudah terlepas dan tercabik. Dalam satu mangkok, terdiri dari beberapa potongan wortel ukuran agak tebal, potongan kentang tebal, daun seledri, bawang goreng dan beberapa potongan daging dengan ukuran besar yang menyatu dengan tulang muda. Semuanya berpadu serasi dengan kuah khas yang menjadi signature sop buntut “Tina” ini.






Setengah piring nasi dan setengah mangkok sop buntut pun tak terasa telah habis dalam sekejap. Saat sedang asyik mengunyah, saya kedatangan menu iga gongso. Ini adalah pertama kalinya saya mencoba iga gongso di “Tina”. Dari aromanya terasa sangat kuat sekali bumbu-bumbunya. Iga sapi ini dibaluri dengan bumbu-bumbu sedemikian rupa sehingga menghasilkan perpaduan yang sesuai dengan selera saya: pedas dan gurih. Kuantitas daging iganya melimpah dan empuk ketika dikunyah. Tak sulit untuk melepaskan daging dari tulang. Dengan bumbu yang begitu meresap ke daging, membuat iga gongso ini begitu paten. Pertama kali saya coba, saya memutuskan ini akan menjadi menu selang-seling saya ketika makan di “Tina”. Bagi yang suka masakan daging yang bercitarasa pedas, menu ini sangat direkomendasikan.



Istri saya yang kurang suka pedas hanya mencicipi sedikit saja. Dalam hati saya sangat senang, karena tidak ada yang menganggu santapan saya hahaha *tertawa dalam hati*. Sekitar 15 menitan saya menghabiskan iga gongso tersebut dengan penuh kemenangan. Sisa-sisa tulang yang saya koyak dagingnya tersisa di piring, seperti artefak fosil yang ditemukan oleh para arkeolog/paleontolog. Dari kedua porsi makanan tersebut, saya menghabiskan 75%-nya, sedangkan istri hanya makan 25% saja. Strategi saya biar bisa makan besar berhasil hehehe. Setelah puas makan, es teh menjadi penutup dari makan siang hari itu. Bener-bener pas sekali buat memanjakan diri sendiri.

Sambil menurunkan perut yang kenyang, saya memesan dua porsi sop buntut buat orang rumah. Saya tidak memesan iga gongso buat orang rumah karena sebagian besar tidak suka dengan masakan pedas. Jadi saya membelikannya yang sop buntut supaya anak saya juga bisa ikut makan.

Untuk info tambahan, beberapa menu makanan yang tersedia di “Tina” antara lain Sop Buntut, Iga Gongso, Ayam Goreng, Gado-Gado Telor, Babat Gongso, Rawon, Sup Ayam, Tengkleng, Otak Sapi Goreng Telor, Rendang Sapi, Mi/Bihun Goreng Telor, Mie Bakso/Bakso Kuah, Nasi Goreng Spesial, Nasi Goreng Ayam, Nasi Goreng Bakso, Nasi Goreng Sosis, Nasi Goreng Babat, Nasi Goreng Telor, Nasi Pecel Telor, Nasi Pecel Tahu Krupuk, Nasi Rames dan Nasi Iga Spesial. Semuanya harganya berkisar dari 15 K sampai 50 K.

Untuk minumannya sendiri antara lain Es Kopyor, Es Kopyor Susu, Es Kelapa Muda, Es Kelapa Muda Susu, Es Campur, Es Marquisa, Es Marquisa Kelapa Muda, Es Sirup, Es Soda Gembira, Jeruk, Susu, Kopi, Kopi Susu, Teh Poci + Gula Batu, Teh Manis, Teh Tawar, Teh Botol, Tebs, Jus Sirsat, Jus Jambu, Jus Wortel, Jus Tomat, Wedang Jahe dan Lemon Tea. Semuanya berkisar dari 4 K sampai 21 K.


Suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke “Tina” dan mencoba menu yang belum pernah saya coba. Nanti saya akan ceritakan di blog Selera Macan setelah mencoba menu seperti Babat Gongso, Nasi Iga Spesial dan Tengkleng-nya. Sekian cerita singkat MasCan mencari kuliner pada hari ini. Semoga cerita perdana ini bermanfaat, serta kita senantiasa sehat selalu dan dilancarkan rejekinya. Aamiin..

Tuesday, June 16, 2020

Sebuah Perkenalan. Tak Ken(d)al, Maka Tak Sayang.


Perkenalkan saya adalah MasCan, petualang makanan dalam program “Selera Macan”. Catatan kecil ini saya buat karena saya sangat suka jajan dan menggemari makanan-makanan di lingkungan sekitar. Melalui blog ini saya ingin berbagi pengalaman terkait jajanan/kuliner yang saya sukai atau tempat makan yang saya rekomendasikan. Dimanapun berada. Tentunya, tempat-tempat yang saya ceritakan ini menurut saya enak dengan sajian yang patut dicoba. Ayo, berpetualang mencari makanan mantap bersama MasCan!

-MasCan-


Cegah Diabetes Dengan Rice Cooker Digital Low Sugar SEKAI

Sumber: Freepik Diabetes merupakan penyakit berbahaya yang efeknya mengakibatkan terlalu banyaknya kadar gula dalam darah (glukosa darah tin...