 |
| (Gapura Pantai Indah Kemangi) |
Apa yang terlintas di benak masyarakat saat mendengar kata
“Kemangi”. Khalayak umum tentu akan mengasosiasikannya dengan sebuah tanaman
yang biasa dijadikan sebagai lalapan pada kuliner pecel lele atau ayam penyet
di warung-warung tenda pinggir jalan. Kalau orang barat biasa menyebut kemangi
sebagai Lemon basil atau Ocimum africanum. Tanaman ini pun sangat
populer di Asia Tenggara sebagai bagian dari penyedap rasa masakan.
Namun di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, kata “Kemangi” sudah
sangat akrab dengan sebuah kuburan angker yang berada di Desa Jungsemi,
Kecamatan Kangkung –salah satu wilayah paling utara Kendal yang berbatasan
langsung dengan Laut Jawa. Warga Kendal pun banyak yang menyebut adanya urban legend di Desa Jungsemi tersebut,
bahwa terdapat pusara keramat yang bernama “Kuburan Kemangi”. Berdasarkan
penuturan berbagai sumber dari warga Kendal, “Kuburan Kemangi” adalah salah
satu spot terangker di Kendal
sekaligus kuburan tertua di Kecamatan Kangkung. Saking mistisnya, orang-orang sampai
harus berpikir dua kali kalau ingin datang ke desa tersebut. Mereka takut terpapar
aura gaib atau fenomena horor.
Selama bertahun-tahun legenda itu hidup di tengah masyarakat
Kendal. Sampai pada akhirnya, ada sebuah proyek tambak pembibitan dan budidaya
udang vaname alias whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei)
dengan investor dari luar negeri. Bahkan sampai beberapa ekspatriat asing perlu
turun tangan langsung di sebuah area yang nantinya bakal menjadi objek wisata Pantai
Kemangi ini. Mulai dari pembukaan lahan untuk akses masuk pantai, pembangunan
tiang aliran listrik, infrastruktur penunjang budidaya udang sampai pembukaan
lahan di sekitar pantai agar tidak terlalu rimbun. Kira-kira proyek ini
berjalan sekitar tahun 2011-2012, hingga pada akhirnya tambak budidaya udang vaname ini berhenti karena satu dan lain
hal. Entah saat itu proyek tersebut masih berjalan atau tidak, namun infrastruktur
penunjang yang sudah terlanjur ada dibuat tersebut masih dapat dimanfaatkan
oleh warga sekitar.
Hingga pada akhirnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat (LPPM) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) pada beberapa tahun belakangan
ini menjadikan Desa Jungsemi beserta Pantai Kemanginya sebagai Desa Mitra untuk
diberikan pendampingan pengembangan. Bentuk pendampingannya yaitu mulai dari awal
pembenahan sarana prasarana pantai sampai pantai tersebut siap untuk dikunjungi
publik. Salah satu sumbangsih nyata nan ikonik dari UPGRIS adalah pembangunan
ikon bertulisakan “Pantai Indah Kemangi” yang besar dan terkenal itu, sehingga bisa
menjadi penanda lokasi wisata. Warga dan para pihak pengelola pun berterima
kasih kepada inisiatif UPGRIS dengan mahasiswa program Kuliah Kerja Nyata (KKN)
yang turut membidani lahirnya Pantai Indah Kemangi ini sehingga bisa dinikmati
oleh publik.
Pantai Indah Kemangi sendiri diresmikan oleh bupati Mirna
Annisa pada pertengahan tahun 2020 saat pandemi, yang juga bertepatan dengan ulang
tahun Kabupaten Kendal yang ke-415. Beralamat di Srandu, area Tambak atau Perswahan
Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, kini akses jalannya sudah cukup
lebar untuk dilewati minibus dan sangat mudah ditemukan. Sejak awal dibukanya, pantai
eksotis ini mampu menyedot sekitar 5.000 pengunjung di bulan awal. Terlihat,
antusiasme warga sangat tinggi sekali terhadap destinasi wisata baru ini. Perlahan-lahan,
berbagai infrastruktur penunjang wisatawan mulai berbenah dan bertambah. Kini
Pantai Indah Kemangi telah memiliki beberapa infrastruktur bangunan seperti toilet
umum, kamar mandi umum, musholla yang luas, gerai produk UMKM, puluhan gazebo,
penerangan solar cell dan area spot swafoto yang Instagramable.
 |
| (Fasilitas Hiburan Penunjang Wisatawan) |
 |
| (Denah Pantai Indah Kemangi) |
 |
| (Musholla dan Kamar Mandi Umum) |
 |
| (Keseruan Wisatawan Bermain Air) |
 |
| (Gazebo Untuk Beristirahat) |
Saat berkunjung ke Pantai Indah Kemangi alias PIK kalau kata
orang-orang setempat, terlihat lokasinya sudah terstandarisasi untuk
infrastruktur pariwisatanya. Pantainya pun terlihat bersih dengan sampah pengunjung
yang rutin dibersihkan oleh petugas. Dengan harga tiket masuk Rp.3.000 per
orang, pengunung sudah bisa menikmati hamparan panorama pemandangan laut alami
beserta udara segarnya. Tentu saja, PIK ini sangat ramah anak karena terdapat
banyak infrastruktur seperti perosotan, jungkat-jungkit, ayunan dan bernagai
macam permainan playground lainnya.
Ada juga persewaan ban karet dan pelampung apabila ingin berenang di pantai
dengan aman.
 |
| (Area Bermain Anak) |
 |
| (Pintu Masuk PIK) |
 |
| (Himbauan Menerapkan Protokol Kesehatan) |
 |
| (Wisatawan Menikmati Pantai) |
Untuk wahana khusus orang dewasa, juga ada berbagai macam
yang disewakan. Pengunjung juga bisa menikmati keseruan motor ATV, banana boat, dokar atau delman sampai
berbagai wahana watersport. Seperti
diketahui bahwa PIK ini sangat potensial untuk dijadikan sebagai daya tarik sport tourism di Jawa Tengah. Bahkan
pemerintah Kabupaten Kendal sudah berencana untuk menjadikannya sebagai tempat event olah raga jetski di Jawa Tengah.
Apabila program ini dapat terlaksana dengan baik, efek positifnya tentu saja
pada berkembangnya iklim UMKM warga di sekitar pantai.
Layaknya pantai yang umumnya ada di pantura, PIK menyajikan lanskap
deburan ombak yang kecil dan sedang pada hari-hari biasa atau tidak hujan.
Pasirnya berwarna hitam dengan ornamen cangkang binatang laut, yang menambah nuansa
keeksotisannya. Kegiatan yang paling disukai pengunjung adalah bermain pasir,
berendam sambil menikmati deburan ombak, sampai tak jarang pula yang menggelar
tikar sambil menikmati santapan bersama keluarga. PIK sangat cocok untuk family time. Selain bisa membawa bekal
sendiri, pengunjung juga bisa memesan aneka jajanan di sepanjang area PIK.
Berbagai jajanan yang banyak dijumpai antara lain es krim, sosis bakar, sate
ayam, mie rebus, mi goreng, pecel pincuk sampai berbagai jenis sea food.
Suasana alam di PIK sendiri didominasi oleh tumbuhan cemara
laut yang kemungkinan baru berusia 2-3 tahunan dan beberapa mangrove di kejauhan. Jika sudah puluhan
tahun tentu saja ini bisa menjadi penghijauan untuk berteduh sekaligus
mengurangi dampak abrasi. PIK juga berbatasan langsung dengan sawah milik
warga, yang subur dan menghasilkan berbagai produk pertanian unggulan. Salah
satu produk pertanian di sawah Kemangi yang unik adalah semangka hijau tua yang
terasa manis itu. Jika kebetulan sedang musim panen, pengunjung bisa melihat
truk-truk pengangkut buah akan masuk ke area PIK dan membawa banyak semangka
dari sawah tersebut.
 |
| (Sawah Warga) |
 |
| (Sawah yang Berbatasan dengan PIK) |
 |
| (Sawah Warga) |
 |
| (Penghijauan dengan Cemara Laut) |
 |
| (Bisnis Ikan Hias Warga) |
 |
| (Perbatasan Antara Sawah dan Pantai) |
Berkat PIK, kini kata “Kemangi” menjadi jauh dari kesan
angker ataupun mistis. Bahkan “Kemangi” sendiri saat ini selalu berdampingan
dengan kata “Indah”. Kondisi ini sangat berbeda sekali dengan persepsi tentang “Kemangi” satu dekade yang lalu. Kemangi saat ini telah menjelma
menjadi pusat bisnis pariwisata yang sangat potensial di Kendal. Tempat tumbuh
berkembangnya UMKM lokal di masa pandemi Covid-19 yang telah mewabah selama dua
tahun terakhir ini. Maka dari itu, warga Desa Jungsemi, khususnya di sekitar
Kemangi perlu mendapatkan bimbingan bisnis mikro atau UMKM dari para akdemisi
atau universitas sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Baik dari mahasiswa atau pihak kampus perlu membimbing
pengusaha UMKM lokal di PIK ini. Harapannya, para pedagang dan pengelola PIK
ini bisa mendapatkan bimbingan dari Universitas Esa Unggul, karena kampus tersebut terbukti memiliki core competency atau kredibilitas tinggi di bidang pariwisata dan entrepreneurship. Semoga saja pihak
akademisi atau mahasiwa dari Universitas Esa Unggul bisa menjadikan PIK ini sebagai pilot project untuk dikembangkan agar bisa menjadi pusat daya tarik
wisata tersohor di Jawa tengah.
 |
| (Universitas Esa Unggul. Sumber: Media Indonesia) |
 |
| (Logo Universitas Esa Unggul) |
Kita tahu bahwa PIK terbukti telah membawa banyak perubahan
di Desa Jungsemi ini. Pesona PIK ini luar biasa hebat. Pantai ini layaknya hidden gems yang tersembunyi di suatu sudut
pantura. Untuk itu, dengan adanya riset potensi dan pendampingan entrepreneurship bagi warga sekitar,
bukan tidak mungkin PIK akan semakin berkembang dengan manajemen pariwisata
yang profesional. Atau mungkin, dari pihak Universitas Esa Unggul dapat memberikan beasiswa jurusan pariwisata bagi putera daerah
atau warga lokal di Desa Jungsemi, dengan kesepakatan untuk kembali ke kampung
halaman guna mengembangkan PIK setelah lulus. Dengan demikian, Universitas Esa Unggul dapat membantu
dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) warga setempat agar potensi
wilayahnya dapat tergali lebih maksimal.
EsaUnggul, selamat
datang di Pantai Indah Kemangi!
Dokumentasi video PIK: https://www.youtube.com/watch?v=Z8Ft2dKf5u0
#inikotaku #esaunggul